Cerpen ''Panggung nada'' karya Dyanika Putri Fitriza Suprono (ditulis berdasarkan kisah nyata penyair )
Karya :Dyanika Putri Fitriza Suprono
Tema : mengejar cita – cita
Panggung nada
Pada tahun 1998 hari senin , lahirlah seorang gadis yang kecil yang lahir secara prematur di rumah sakit Muhammaddiyah Lamongan, dua sejoli sangat bahagia dan was was karna anak tersebut lahir dengan kondisi yang kritis, dan diinkubator selama 3 bulan di rumah sakit dan tidak kuat oleh udara diluar tubuhnya langsung membiru, panjangnya hanya 36cm dia adalah bayi yang beruntung bisa bertahan sampai sekarang.
Dengan bakat yang terpendam yang mulai muncul waktu sianak umur 3 tahun yaitu menyayi dan bermain piano.Bakat itu diketahui oleh keluarga besar saat sianak di ajak nenek ketempat saudara lalu,
saudara berkata kalau kamu bisa menyayi lagu “Lerak –lerak bayu segoro “, tak kasih uang 5000 .
sianak pun menjawab”bisa,tapi beneran lo dikasih ya ?”.
saudara tersebut menjawab “ iya beneran, tapi nyayi dulu “
(sianak mulai bernyayi didepan orang banyak sambil menari bak, penyayi cilik dengan suara merdu)
Semua orang yang ada di tempat itu pun bertepuk tangan dan memuji suara emas anak tersebut dan mereka bilang ternyata dia mempunyai suara enak dan lues dalam menyayi,terdapat bakat terpendam, sejak saat itu di keluarga besar anak tersebut sering disuruh menyayi saat ada acar perkumpulan keluarga besar. Bakatnya semakin menjadi jadi saat masuk TK kecil,ia di ajari ibunya piano dua kali ajaran dia langsung tau tangga nada dan setiap sore setelah belajar selalu diajari piano oleh ibunya samapai dia hafal,kunci lagu gundul – gundul pacul, ibu kita kartini dan sorak – sorak bergembira.Ibunya berkata dibalik fisikmu yang kecil sendiri dan putih sendiri ternyata, anakku juga berbakat serta pandai dalam mencari teman. Sungguh kuasamu. Waktu terus berjalan sianak tersebut memasuki Tk besar dan terpilih sebagai penabuh alat musik islami yang sering disebut banjari, dia dan teman – teman terpilih lomba di THR mengalahkan musuh dan mendapatkan juara 2 . Tidak samapai di situ saja karir sianak tersebut, semakin hari semakin beranjak besar tepatnya waktu sianak tersebut kelas 5 SD .
sianak yang biasanya memainkan banjari tiba- tiba disuruh guru samroh untuk menggantikan posisi teman yang vokal untuk menyayi pada saat itu dia malu namun pak guru tersebut bilang tidak usah takut ini hanya satu kali saja untuk menggantikan posisi temanmu yang sedang sakit, anak tersebut teringat waktu kecil saat neneknya bercerita bahwa suaranya emas, dengan percaya diri, sianak tersebut langsung bernyayi dan sontak semua guru keluar dari kantor untuk melihat penampilan sianak tersebut tidak lupa kepala sekolah juga ikut melihat sambil mlongo menggeleng gelengkan kepala. Tanpa pikir panjang langsung bialng ikutkan lomba sekecamatan ,cepat daftar namun sayangnya waktu lomba sianak tersebut kecewa karna orang tuanya telat untuk datang, dan akhirnya dia menangis dan membatalkan lombanya, semua guru kecewa dengan pilihannya yang menunda membanggakan sekolah akhirnya SDN sianak, tetap juara namun juara harapan 1.
Waktu terus berlaku dan sekarang sianak berumur 22 tahun dan terus melanjutkan hobinya yaitu cover dan diupload di Instagram pribadinya yang berfollower 1300, tidak ada usaha tanpa berani mencoba dan tidak ada bakat yang akan terlihat kalau tidak berani memulai anak tersebut ada;ah saya sendiri si penulis semoga suka dengan cerita saya semoga bisa mengambil setiap amanat yang terdapat didalam cerita kehidupan saya terus berkarya jadialh dirimu sendiri dan banggalah dengan apa yang kalian miliki.
Komentar
Posting Komentar